Kalau dipikir lagi, keputusan itu muncul tiba-tiba. Bahkan sampai hari ini aku sendiri masih bingung, kenapa dulu opsi itu bisa muncul tiba-tiba dalam pikiranku. Tapi mungkin memang sudah jalannya Allah. Mungkin itu cara Allah menuntunku pelan-pelan, tanpa aku sadar, ke arah yang sebenarnya sudah Dia siapkan. Karena ternyata Allah memang ingin aku berada di samping Ama
Aku percaya, kalau sesuatu memang sudah jadi jalan hidup yang Allah tetapkan untuk kita, maka Dia akan tuntun langkah kita ke arah itu, meski awalnya kita sendiri tidak benar-benar paham kenapa harus memilih jalan tersebut. Dua tahun setelah aku mengambil keputusan resign itu, Ama berpulang.
Aku tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi secepat ini tapi manusia memang tidak pernah tahu kapan waktunya. Allah lebih tahu.
Selama di kampung hidup gak selalu berjalan baik tapi saya tetap tak pernah menyesalinya walaupun ada niatan untuk kembali ke ibukota tapi itu bukan karena menyesali keputusan awal hanya belum terbiasa dengan kehidupan baru yang ternyata lebih menantang dan banyak ujiannya, pun kembali ke ibukota saya ingin bersama Ama tapi sepertinya jalan hidup yang Allah pilihkan untuk saya adalah dengan tetap berada d kampung bersama Ama.
Hubunganku dengan Ama pun sebenarnya tidak selalu baik. Kalau boleh jujur, hubungan kami seperti love-hate relationship. Ada saja bahan debatnya. Ada saja hal yang bikin aku kesal, bikin Ama kesal. Padahal aku tahu, mendebat orang tua itu dosa besar tapi kadang aku tetap melakukannya yang kemudian aku sesali dan sesali lagi. Bukan karena aku tidak sayang. Justru karena aku terlalu sayang.
Aku hanya ingin yang terbaik untuk Ama. Aku ingin beliau sehat, tenang dan bahagia. Tapi entah kenapa caraku kadang salah. Caraku kadang terlalu keras. Dan saat aku sadar, penyesalan itu selalu datang belakangan.
Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa membalas semua lelah perjuangan beliau membesarkan kami, keringat yang mengucur, air mata yang mungkin diam-diam jatuh, rasa sakit hati yang mungkin Ama simpan sendiri karena tingkah anak-anaknya. semuanya terlalu besar dan tak akan bisa terbayar dg apapun.
Aku hanya ingin membahagiakan beliau.
Aku hanya ingin hidup beliau tenang.
Aku ingin beliau sempat menikmati hidup untuk dirinya sendiri, bukan hanya terus-menerus menjadikan kami sebagai prioritasnya, sampai lupa bahwa beliau juga manusia yang punya mimpi, punya keinginan sendiri, tapi begitulah Ama. Hidup yang Ama jalani begitu berat, semoga surga ganjarannya untuk beliau, Aamiin
Dan sekarang, saat aku mengingat semuanya, aku sadar, keputusan pulang itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah untukku. Allah memberi aku kesempatan.
Kesempatan untuk menemani Ama
Kesempatan untuk berada di dekat beliau.
Kesempatan untuk melihat beliau lebih sering.
Kesempatan yang mungkin tidak semua orang dapatkan.
Dan ternyata kesempatan itu Allah beri bukan untuk waktu yang panjang. Hanya 2 tahun tapi cukup untuk membuatku sadar, bahwa aku pernah menjadi anak yang bisa berada di samping ibunya di saat-saat terakhir.
Dan untuk itu Aku akan selalu bersyukur dan akan selalu berdoa untuk Ama dan berusaha jadi anak baik yang kelak bisa membersamai Ama di surgaNya Allah
Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar