Selasa, 31 Maret 2026

Jakarta dan Perasaan yang Berbeda

Seperti tahun lalu, tahun ini saya kembali mengunjungi kota ini. Kota yang rasanya hampir setiap tahun saya datangi. Tapi kali ini, saya datang dengan perasaan yang berbeda.
Kota metropolitan, kota termacet, kota dengan gedung pencakar langit tertinggi di Indonesia. Kota serba ada, kota yang seakan gak pernah tidur, selalu hidup, selalu ramai. Ya… kota apalagi kalau bukan Jakarta?
Dulu saya tinggal di kota ini selama hampir 5 tahun, sejak pertengahan 2016 hingga akhir 2021. Dan sekarang, genap 5 tahun juga saya meninggalkannya.
Namun baru di tahun ini saya benar-benar merasakan sesuatu yang berbeda: Jakarta bukan lagi rumah untuk saya.
Selama 5 tahun terakhir, setiap kali kembali dari Jakarta ke kampung halaman, biasanya saya masih menyimpan rindu pada kota ini. Jakarta pernah menemani perjalanan hidup saya, memberi banyak cerita, pelajaran, dan pengalaman yang tidak sedikit. Rasanya Jakarta selalu punya tempat tersendiri di hati saya.
Namun tahun ini, saya merasa… sudah cukup.
Saya seperti kewalahan dengan ritme Jakarta. Bukan karena kotanya berubah, tapi karena saya yang sudah berubah.
Saya sudah terbiasa dengan hidup yang lebih pelan, lebih tenang, lebih sederhana di kampung. Dan ketika kembali ke Jakarta, semuanya terasa begitu cepat, padat, dan melelahkan.
Sebenarnya hidup di kampung maupun di Jakarta sama-sama punya plus minusnya. Tinggal di kota menawarkan banyak peluang, akses yang serba mudah, dan kehidupan yang selalu bergerak. Sementara tinggal di desa menawarkan ketenangan, udara yang lebih bersih, dan ruang untuk bernapas lebih lega.
Dan tahun ini saya sadar…
tempat saya bukan lagi di Jakarta, tapi di sini, di kampung halaman saya. Setidaknya, itulah yang saya rasakan sekarang.
Saya ingin membangun mimpi saya di sini. Tidak apa-apa memulai dari tempat kecil dulu. Semoga perlahan bisa terus berkembang, sampai suatu hari nanti bisa merambah ke perkotaan. Saya tetap tidak menutup segala kemungkinan dalam hidup.
Tapi jika saat ini disuruh memilih tempat untuk tinggal dan menetap, saya akan memilih kampung halaman saya.

Menjadi Dewasa: Perjalanan Seumur Hidup

Pada umumnya, semakin bertambah usia seseorang, semakin dewasa juga cara berpikir dan sikapnya. Ini karena pengalaman hidup, pembelajaran, serta wawasannya yang terus bertambah seiring waktu.
Namun pada kenyataannya, tidak semua orang mengalami proses pendewasaan yang sejalan dengan pertambahan umurnya. Ada orang yang usianya sudah matang, tetapi sikap dan cara berpikirnya masih jauh dari kata dewasa. Sebaliknya, ada juga orang yang usianya masih muda, tetapi sudah mampu bersikap bijak, tenang, dan dewasa dalam menghadapi berbagai situasi.
Menurut saya, ini kembali ke pribadi masing-masing. Kedewasaan tidak hanya terbentuk oleh waktu, tapi juga karena seseorang mau belajar memahami orang lain, dan yang lebih penting, mau memahami dirinya sendiri.
Ada orang yang secara umur sudah dewasa, tetapi kadang terkesan egois dan hanya fokus pada dirinya sendiri, sehingga kurang peka pada perasaan orang lain, empati kurang tumbuh, dan cara bersikapnya jadi terlihat kurang bijaksana.
Di sisi lain, ada juga orang yang terlalu memikirkan orang lain sampai melupakan dirinya sendiri. Ia terlalu sering mengalah, terlalu sering memprioritaskan orang lain, hingga akhirnya dirinya sendiri menjadi korban. Sikap seperti ini mungkin terlihat baik di permukaan, tetapi jika berlebihan justru bisa menjadi racun bagi diri sendiri. Saya sendiri kadang masih berada di posisi ini, sehingga tulisan ini juga menjadi pengingat untuk diri saya juga.
Umur hanya menunjukkan berapa lama seseorang hidup, tetapi kedewasaan menunjukkan bagaimana seseorang belajar dari hidup. Pengalaman pun tidak otomatis membuat seseorang bijak, kecuali jika ia mau memahami dirinya, memahami orang lain, dan terus memperbaiki cara berpikir serta cara bersikap. 
Pada akhirnya, kedewasaan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses yang terus berjalan seumur hidup
#tulisanrandom#refleksidiri#selfreminder

Senin, 02 Maret 2026

Jakarta dalam Hati yang Pulang

Jakarta adalah kota metropolitan, ibu kota negara, sekaligus pusat berbagai aktivitas dan peluang. Lebih dari lima tahun tinggal di kota ini mengajarkan saya banyak hal. Orang sering berkata bahwa ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Namun bagi saya, Jakarta justru menjadi tempat bertumbuh, tempat saya belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan lebih baik.
Tidak banyak kota yang pernah saya tinggali. Selain tanah kelahiran saya di Agam, Bukittinggi, saya juga sempat menetap di beberapa kota lain. Ada yang hanya dalam hitungan bulan, ada pula yang bertahun-tahun. Masing-masing kota meninggalkan kesan, pengalaman, dan pembelajaran yang berharga dalam perjalanan hidup saya.
Saya pernah tinggal di Padang untuk menempuh pendidikan kuliah. Saya juga pernah menetap sekitar dua bulan di Kediri untuk belajar. Kota terakhir yang saya tinggali sebelum kembali ke kampung halaman adalah Jakarta, kota tempat saya mencari peruntungan sekaligus mencari nafkah.
Saya tidak menampik kerasnya kehidupan di Jakarta. Namun justru di situlah letak seni bertahan hidup yang menempa mental menjadi lebih kuat. Harus saya akui, mereka yang mampu bertahan di Jakarta adalah orang-orang tangguh yang telah ditempa sedemikian rupa oleh kerasnya dinamika ibu kota.
Di Jakarta, semuanya tersedia. Tinggal bagaimana kita menentukan pilihan, jalan mana yang ingin ditempuh, dan dengan cara apa kita bertahan.
Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan banyak hal baik selama berada di Jakarta. Meski ada sisi negatif yang saya temui, semuanya saya jadikan pengalaman dan pembelajaran untuk melangkah ke depan, baik yang positif maupun yang kurang menyenangkan.
Sampai kapan pun, Jakarta akan tetap istimewa bagi saya. Bukan hanya karena gemerlap dan fasilitas yang ditawarkannya, tetapi juga karena orang-orang yang saya temui di sana.
Entah takdir akan membawa saya kembali menetap di sana atau hanya sekadar berkunjung sebagai pelancong yang sesekali merasakan hiruk-pikuknya, Jakarta tetap memiliki tempat tersendiri di hati saya.


Ttd
Ex-Perantau Jakarta