Kamis, 02 April 2026

Catatan Kecil Tentang Bersyukur

Kadang kita sebagai manusia itu suka gak sadar dan gak bersyukur, kita sering lupa kalau Allah udah kasih begitu banyak kebaikan. Bahkan kebaikan kecil yang sebenarnya gak kecil sama sekali. Tapi karena kita terlalu sering lihat nikmat orang lain, kita jadi merasa nikmat yang Allah kasih ke kita itu kurang. Padahal kalau benar-benar dihitung, kita gak akan sanggup menghitungnya karena saking banyaknya.
Nikmat Islam.
Nikmat sehat bahkan nikmat sakit juga karena bisa menggugurkan dosa.
Nikmat bisa bernapas lega.
Nikmat makan.
Nikmat punya tempat tinggal.
Nikmat keluarga.
Nikmat orang-orang baik yang Allah hadirkan di sekitar kita.
Kalau dipikir-pikir, ada banyak banget momen dalam hidupku yang bikin aku sadar, Allah itu bener-bener dekat. Allah itu nolong kita dengan cara yang kadang gak masuk akal, tapi nyata.
Salah satunya, aku pernah hampir kecopetan.
Waktu itu aku jalan di pasar, pakai tas ransel di belakang, ceroboh banget memang karena HP aku taruh di saku depan tas. Entah kenapa tiba-tiba aku noleh ke belakang, padahal gak ada apa-apa dan gak merasa tas ada yang buka.
Tapi pas nengok, aku lihat ada pencopet yang lagi beraksi, tangannya udah megang HP aku. 
Aku aget tentunya terlihat dari espresi wajah mungkin tapi belum sempat ngomong apa-apa, si pencopet malah balikin HP itu . Dia gak kabur dengan HP nya, gak ngotot, dia cuma balikin lalu pergi.
Sampai sekarang aku masih amazed sama kejadian itu.
Karena sebenarnya bisa aja takdirnya HP itu hilang dan aku sedih berhari-hari. Tapi Allah seolah tuntun untuk nengok di saat yang tepat, dan Allah juga seolah tuntun si pencopet itu untuk balikin HPnya.
Seolah Allah ngasih pesan untukku agar lain kali hati-hati dan gak ceroboh lagi.
Lalu ada satu kejadian lain yang sampai sekarang bikin hatiku hangat kalau diingat.
Waktu aku merantau, aku pernah ada kondisi mendesak yang bikin keluarga minta aku pulang kampung. Tapi saat itu ekonomi lagi pas-pasan, dan aku gak punya uang untuk beli tiket pesawat.
Mau minta ke orang tua juga gak tega, karena mereka juga lagi ada masalah. Dan aku gak enak harus nambah beban mereka.
Tapi tiba-tiba, nenek kasih aku uang.
Tanpa aku minta. Tanpa aku cerita apa-apa. Benar-benar tiba-tiba aja. Dan pas lagi cari penerbangan, ada satu maskapai yang biasanya terkenal mahal, tiba-tiba turun harga. Harganya sama kayak maskapai biasa yang lebih murah.
Aku langsung pesan.
Saat itu aku benar-benar terkesan, karena rasanya Allah kasih kemudahan yang luar biasa. Seolah Allah ingin berpesan kalau niatmu untuk orang tua, Aku mudahkan jalannya.
Dan setelah itu harga tiket maskapai itu gak pernah murah lagi. Aku sempat beberapa kali cek karena penasaran, tapi setiap aku cek selalu mahal seperti biasanya. Rasanya kejadian itu memang khusus Allah hadirkan di waktu itu.
Lalu aku juga teringat waktu aku dapat kerjaan pertamaku.
Waktu itu aku bersyukur banget, karena setelah lama nganggur akhirnya aku dapat pekerjaan. Aku pikir kantor dan lingkungannya bakal sesuai ekspektasiku. Apalagi perusahaannya startup, dan waktu itu startup lagi booming banget. Kantor pusatnya pun di salah satu gedung tinggi di Jakarta.
Aku daftar untuk cabang Bekasi. Awalnya aku training 3 hari di kantor pusat, dan aku senang banget.
Tapi setelah pindah ke cabang Bekasi,  ternyata kantonya jauh dari rumah sodara tempat aku tinggal jadi aku harus ngekos lagi dan kagetnya lagi ternyata kantor cabang Bekasi itu numpang di ruko milik perusahaan lain yang terdiri dari 4 lantai. Dan kami ditempatkan di lantai 4, tanpa lift hanya ada tangga untuk akses setiap lantai. Kalau dibilang kantor, jujur lebih layak disebut gudang lantai 4 paling atas itu karena banyak barang dan sempit.
Di lantai 1 ada resepsionis cewek.
Lantai 2 isinya karyawan cowok semua tapi gak banyak.
Lantai 3 kosong, kadang dipakai meeting.
Dan lantai 4 tempat aku kerja dan mayoritas cowok juga.
Staff perusahaan cuma terdiri dari supervisor dan tim sales. Jadi yang benar-benar stay di kantor itu cuma aku. Yang lainnya kebanyakan ke lapangan. Biasanya sebelum mereka berangkat, ada briefing pagi sebentar.
Sales cowok ini, ya begitulah, ada aja modusnya. Tapi Alhamdulillah, Allah jaga aku. Kalau ada yang mulai aneh-aneh atau coba modus, entah kenapa setelah itu mereka jadi gak berani lagi. Mereka seolah segan, seolah gak punya ruang untuk macam-macam. Bahkan kalau bercanda pun mereka kayak menahan diri, gak berani kelewatan. Padahal aku tahu obrolan dan candaan mereka di luar itu parah. Dan juga suasana ruko yang sepi, karyawannya gak banyak, lantai 3 kosong kalau aku ingat lagi kondisi waktu itu aku jadi merinding sendiri karena seram, bukan hanya karena ada nuansa horornya tapi juga bahaya sebagai cewek yang mengintai kapan aja karena lingkungannya sepi dan pinggir kota, dan setelah ada sales cewek kondisi makin lebih baik karena bukan hanya aku cewek satu-satunya dan juga mereka jg baik dan jadi teman setelahnya tapi tetap aja mereka semua mencar ke lapangan jd sampai sore aku sendirian di kantor dan setelah diingat ingat lagi sekarang, aku suka heran sendiri, kok dulu bisa bertahan hampir 8 bulan di tempat itu,  Walaupun di saat bersamaan juga bersyukur, karena Allah selalu jaga aku. 
Dan kerjaan pertama ini seolah jadi batu loncatan aku untuk dapat kerjaan berikutnya. Kerjaan aku kedua akhirnya aku dapat di salah satu perusahaan media terkenal di Jakarta  yang benar-benar sesuai dengan ekspektasi baik kerjaan dan lingkungannya. Proses diterima di kantor ini juga ada kisahnya juga yang mana kembali menunjukkan bagaimana kuasa Allah tapi akan panjang jika diceritakan disini mungkin untuk tulisan berikutnya nanti.
Itu baru beberapa dari banyak hal baik yang Allah lakukan dalam hidupku. Memang benar ya seperti firman Allah dalam Al-Qur’an, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
Aku menulis ini sebenarnya untuk mengingatkan diri sendiri.
Supaya kalau suatu hari aku futur, atau mulai merasa kurang bersyukur, aku bisa kembali mengingat,  Bahwa Allah itu selalu punya cara untuk menjaga, menolong, dan menyayangi hamba-Nya.

Rabu, 01 April 2026

Allah Pulangkan Aku untuk Ama

Salah satu keputusan terbesar dalam hidupku, yang dari awal sampai sekarang bahkan sampai kapan pun aku yakin tidak akan pernah aku sesali, adalah saat aku memilih resign kerja di ibukota dan memutuskan pulang ke kampung halaman untuk menemani Ama
Kalau dipikir lagi, keputusan itu muncul tiba-tiba. Bahkan sampai hari ini aku sendiri masih bingung, kenapa dulu opsi itu bisa muncul tiba-tiba dalam pikiranku. Tapi mungkin memang sudah jalannya Allah. Mungkin itu cara Allah menuntunku pelan-pelan, tanpa aku sadar, ke arah yang sebenarnya sudah Dia siapkan. Karena ternyata Allah memang ingin aku berada di samping Ama
Aku percaya, kalau sesuatu memang sudah jadi jalan hidup yang Allah tetapkan untuk kita, maka Dia akan tuntun langkah kita ke arah itu, meski awalnya kita sendiri tidak benar-benar paham kenapa harus memilih jalan tersebut. Dua tahun setelah aku mengambil keputusan resign itu, Ama berpulang.
Aku tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi secepat ini tapi manusia memang tidak pernah tahu kapan waktunya. Allah lebih tahu.
Selama di kampung hidup gak selalu berjalan baik tapi saya tetap tak pernah menyesalinya walaupun ada niatan untuk kembali ke ibukota tapi itu bukan karena menyesali keputusan awal hanya belum terbiasa dengan kehidupan baru yang ternyata lebih menantang dan banyak ujiannya, pun kembali ke ibukota saya ingin bersama Ama tapi sepertinya jalan hidup yang Allah pilihkan untuk saya adalah dengan tetap berada d kampung bersama Ama.
Hubunganku dengan Ama pun sebenarnya tidak selalu baik. Kalau boleh jujur, hubungan kami seperti love-hate relationship. Ada saja bahan debatnya. Ada saja hal yang bikin aku kesal, bikin Ama kesal. Padahal aku tahu, mendebat orang tua itu dosa besar tapi kadang aku tetap melakukannya yang kemudian aku sesali dan sesali lagi. Bukan karena aku tidak sayang. Justru karena aku terlalu sayang.
Aku hanya ingin yang terbaik untuk Ama. Aku ingin beliau sehat, tenang dan bahagia. Tapi entah kenapa caraku kadang salah. Caraku kadang terlalu keras. Dan saat aku sadar, penyesalan itu selalu datang belakangan.
Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa membalas semua lelah perjuangan beliau membesarkan kami, keringat yang mengucur, air mata yang mungkin diam-diam jatuh, rasa sakit hati yang mungkin Ama simpan sendiri karena tingkah anak-anaknya. semuanya terlalu besar dan tak akan bisa terbayar dg apapun.
Aku hanya ingin membahagiakan beliau.
Aku hanya ingin hidup beliau tenang.
Aku ingin beliau sempat menikmati hidup untuk dirinya sendiri, bukan hanya terus-menerus menjadikan kami sebagai prioritasnya, sampai lupa bahwa beliau juga manusia yang punya mimpi, punya keinginan sendiri, tapi begitulah Ama. Hidup yang Ama jalani begitu berat, semoga surga ganjarannya untuk beliau, Aamiin
Dan sekarang, saat aku mengingat semuanya, aku sadar, keputusan pulang itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah untukku. Allah memberi aku kesempatan.
Kesempatan untuk menemani Ama
Kesempatan untuk berada di dekat beliau.
Kesempatan untuk melihat beliau lebih sering.
Kesempatan yang mungkin tidak semua orang dapatkan.
Dan ternyata kesempatan itu Allah beri bukan untuk waktu yang panjang. Hanya 2 tahun tapi cukup untuk membuatku sadar, bahwa aku pernah menjadi anak yang bisa berada di samping ibunya di saat-saat terakhir.
Dan untuk itu Aku akan selalu bersyukur dan akan selalu berdoa untuk Ama dan berusaha jadi anak baik yang kelak bisa membersamai Ama di surgaNya Allah
Aamiin