Senin, 02 Maret 2026

Jakarta dalam Hati yang Pulang

Jakarta adalah kota metropolitan, ibu kota negara, sekaligus pusat berbagai aktivitas dan peluang. Lebih dari lima tahun tinggal di kota ini mengajarkan saya banyak hal. Orang sering berkata bahwa ibu kota lebih kejam daripada ibu tiri. Namun bagi saya, Jakarta justru menjadi tempat bertumbuh, tempat saya belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan lebih baik.
Tidak banyak kota yang pernah saya tinggali. Selain tanah kelahiran saya di Agam, Bukittinggi, saya juga sempat menetap di beberapa kota lain. Ada yang hanya dalam hitungan bulan, ada pula yang bertahun-tahun. Masing-masing kota meninggalkan kesan, pengalaman, dan pembelajaran yang berharga dalam perjalanan hidup saya.
Saya pernah tinggal di Padang untuk menempuh pendidikan kuliah. Saya juga pernah menetap sekitar dua bulan di Kediri untuk belajar. Kota terakhir yang saya tinggali sebelum kembali ke kampung halaman adalah Jakarta, kota tempat saya mencari peruntungan sekaligus mencari nafkah.
Saya tidak menampik kerasnya kehidupan di Jakarta. Namun justru di situlah letak seni bertahan hidup yang menempa mental menjadi lebih kuat. Harus saya akui, mereka yang mampu bertahan di Jakarta adalah orang-orang tangguh yang telah ditempa sedemikian rupa oleh kerasnya dinamika ibu kota.
Di Jakarta, semuanya tersedia. Tinggal bagaimana kita menentukan pilihan, jalan mana yang ingin ditempuh, dan dengan cara apa kita bertahan.
Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan banyak hal baik selama berada di Jakarta. Meski ada sisi negatif yang saya temui, semuanya saya jadikan pengalaman dan pembelajaran untuk melangkah ke depan, baik yang positif maupun yang kurang menyenangkan.
Sampai kapan pun, Jakarta akan tetap istimewa bagi saya. Bukan hanya karena gemerlap dan fasilitas yang ditawarkannya, tetapi juga karena orang-orang yang saya temui di sana.
Entah takdir akan membawa saya kembali menetap di sana atau hanya sekadar berkunjung sebagai pelancong yang sesekali merasakan hiruk-pikuknya, Jakarta tetap memiliki tempat tersendiri di hati saya.


Ttd
Ex-Perantau Jakarta